Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Gus Dur Wali (7)


Bagaimana Gus Dur Bisa Ikuti Diskusi Meski Tertidur 

Salah satu keheranan publik atas Gus Dur adalah kebiasaannya tertidur dalam sebuah diskusi, tetapi begitu gilirannya untuk bicara atau menjawab pertanyaan, ia dengan lancar menyampaikan pendapatnya, seolah-olah dengan tekun mendengarkan pembicaraan sebelumnya.

Kebiasaan tidur di sembarang tempat ini memang tampaknya sudah dari sononya. Dalam biografi yang ditulis oleh Greg Barton, diceritakan, saat masih kecil ketika tinggal di Matraman Jakarta Pusat, Gus Dur pernah tertidur diatas pohon sehingga terjatuh dan menyebabkan tangannya patah. 

Lalu bagaimana penjelasan atas kemampuan Gus Dur untuk tetap bisa mengikuti pembicaraan meskipun tertidur. Kelompok rasionalis berpendapat Gus Dur bisa tetap mengikuti pembicaraan karena ia banyak membaca dan ingatannya kuat sehingga tiba waktunya berbicara, ia tinggal nyambung saja. Thesis ini bisa diuji, silahkan dicoba, tidur di sebuah acara dimana anda memiliki kompetensi dan kemudian apa anda bisa tetap mengikuti dinamika diskusi atau malah gelagapan?

Dari pendekatan ilmiah, terdapat sebuah penelitian yang dipublikasi dalam Proceeding National Academy of Sciences yang dilakukan oleh tim dari Universitas of Florida menemukan bahwa bayi mampu belajar dan berfikir dalam kondisi tertidur.

Dana Byrd, peneliti dari University of Florida menunjukkan bayi yang tertidur membuatnya mampu menyerap informasi seperti spons data. Bersama rekan-rekannya, ia menguji kemampuan belajar bayi baru lahir dengan mengulang nada yang diikuti oleh hembusan lembut dari udara ke kelopak mata. Setelah sekitar 20 menit, 24 dari 26 bayi menyipitkan kelopak mata bersama-sama ketika nada itu terdengar tanpa embusan udara.

Jenis pembelajaran seperti ini tak dilihat di ranjang orang dewasa. Pertanyaannya, apakah Gus Dur tetap memiliki kemampuan seperti ini, yang tak hilang sejak ia dilahirkan?

Sementara itu pendekatan spiritual adalah adanya wali yang memiliki kebiasaan aneh, yaitu suka sekali tidur dan ketika terbangun, ia banyak menceritakan hal-hal aneh diluar kemampuan manujsia biasa. Wali jenis ini yang sangat terkenal adalah Tgk Ibrahim Woyla dari Woyla Aceh Barat. Gus Dur pernah menerima kunjungannya dan ia sangat menghormati tamu ini (baca. Gus Dur Wali (10). Pertanyaannya, apakah Gus Dur sebenarnya juga wali dengan kategori yang sama? 

Umar Wahid, adik Gus Dur yang juga seorang dokter tak bisa menilai dan menjelaskan apakah kemampuan Gus Dur untuk tetap bisa mengikuti pembicaraan saat tertidur ini secara rasional, apalagi spiritual. 

“Saya berpendapat ini merupakan salah satu kelebihan yang diberikan Allah, saya tak bisa berkomentar apakah ini tanda kewalian atau bukan,” katanya

Penulis: Mukafi Niam (Dirilis dari NU Online)

Gus Dur Wali (6)



Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.

Besarnya pengaruh ulama yang mendalami mazhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka mazhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya.

Ia belajar di Al Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.

Alawi Al Maliki meninggal tahun 2004 dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar al Qur’an untuk menghormatinya. 

Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki yang merupakan ahli hadist.

Penghormatan kepada Gus Dur, yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH Said Aqil Siroj, yang waktu itu menemaninya bersama Ghofar Rahman, sekjen Gus Dur dalam satu kunjungan ke Mekkah.

Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri. 

Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan. 

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan,” (mkf)

Hasyim Asy'ari


Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie (bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari) (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng,Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Keluarga

KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Berikut silsilah lengkapnya: Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy'ari (Jombang), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)

Pendidikan
H Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo,Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Pada tahun 1892, KH Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.

Perjuangan
Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.
Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama. Hasyim Asy'ari adalah Rais Aam PBNU sejak tahun 1926-1947.

(dinukil dari Wikipedia

Gus Dur Wali (5)


Kiai Said Yakin 100 persen Gus Dur Wali 

Gus Dur memiliki pergaulan yang sangat luas, tetapi tak banyak yang turut menyaksikan karomah yang dimilikinya. Diantara sedikit orang itu adalah KH Said Aqil Siroj yang sekarang menjabat sebagai ketua umum PBNU.


Dengan melihat secara langsung karomah Gus Dur, tak heran Kiai Said yakin 100 persen Gus Dur merupakan seorang wali atau kekasih Allah. Pengalaman spiritual Kang Said bersama Gus Dur ini akan dimuat secara bersambung di NU Online.




Kang Said yang mengambil disertasi soal tasawwuf ini menjelaskan, terdapat dua kategori wali, yaitu waliyullah dan walihukukillah. Waliyullah merupakan wali yang pencapaian kewaliannya tidak malalui prosedur normatif, tetapi Allah langsung mengangkatnya menjadi seorang wali. 




Beberapa wali yang masuk kategori ini diantaranya adalah Rabiah Adawiyah, dari seorang pernyanyi, kemudian taubat dan menjadi wali dengan tingkatan yang sangat tinggi. Kemudian Ibrahim bin Adham, seorang pangeran kerajaan, kemudian taubat dan pindah haluan dengan menekuni kehidupan keagamaan, terus diangkat menjadi wali.




Sementara itu, wali dalam arti normatif atau berproses melalui kehidupan sufi, ia harus melalui berbagai tahapan sebelum akhirnya menjadi wali, dari taubat, wara, menjadi lebih selektif, terus zuhud atau menganggap kecil dunia, sabar, tawakkal, ridho, syukur, tahalli, tajalli, sampai akhirnya mencapai makrifat.




“Gus Dur termasuk yang waliyullah, yang loncat. Terserah Allah, yang dia maui yang dijadikan,” terangnya. 




Proses menuju kesufian juga bisa ditinjau dari aspek metafisik dan tasawwuf. Pendekatan tasawwuf menekankan latihan, sementara metafisik menekankan renungan. Wali yang memulai dari kajian filsafat diantaranya Ibnu Sina dan Ibnu Arobi, dari filsafat kemudian masuk ke dunia sufi dan melakukan riyadhohdan mujahadah.




Para sufi yang melakukan keduanya, adalah Imam Ghozali dan Imam Junaidi al Bagdadi. “Imam Junaidi termasuk juga filosof, tetapi mungkin jarang orang membaca tulisan-tulisannya,” jelasnya.




Gus Dur menurutnya, memiliki banyak kelebihan, diantaranya, memiliki gen yang baik karena berlatar belakang keluarga ulama yang disegani masyarakat, kedua, otaknya cerdas dan ketigasetelah bosan dengan analisis rasional, Gus Dur berusaha mengembangkan instuisinya.




Kiai Said juga menegaskan, sufisme hanya hanya milik Islam, tetapi merupakan nilai universal yang ada pada setiap agama. Agama Nasrani, Hindu, Konghucu, Budha, bahkan para filosof Yunani kuno juga pengikut sufi seperti Pytagoras dan Platinus. 




Dijelaskannya, agama yang paling sedikit dalam aspek kesufian adalah Yahudi, yang sangat menonjol aspek materialismenya. Yang menganut sufi adalah sekte Kabbala (kapalistik). (mkf)

Gus Dur Wali (4)


Yenny Wahid Jadi Saksi Banyak Peristiwa di Luar Nalar




Wali atau bukan wali, hanya Allah yang tahu dan diantara sesama komunitas wali itu sendiri, tetapi paling tidak, keluarga terdekat bisa menjadi saksi banyak peristiwa yang mampu dilakukan oleh tokoh yang dipercaya sebagai wali.


Yenny Wahid, putri Gus Dur mengaku menyaksikan banyak peristiwa yang terjadi di pada diri bapaknya yang sulit dipahami akal rasional. “Tetapi saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu,” katanya ketika ditemui NU Online dalam acara palantikan Ansor di Jakarta, Kamis (24/2) malam.

Namun ia mengakui diantara kemampuan Gus Dur yang tidak dimiliki manusia pada umumnya adalah melihat kejadian-kejadian di masa yang akan datang yang kemudian diceritakan kepada keluarganya. 

“Kalau dulu, beliau sering ngendikan (bercerita), beberapa bulan kemudian baru kejadian. Banyak hal dan macem-macem. Paling gampang soal bencana alam, beliau mengatakan, beberapa bulan lagi akan ada gempa bumi, dan betul kejadian. Macem-macem lah,” katanya. 

Untuk saat ini, setelah Gus Dur meninggal, Yenny mengaku masih sering bermimpi bertemu ayahnya. Pengakuan yang sama juga diperoleh Yenny dari teman-teman lama Gus Dur yang merasa sering didatangi dalam mimpi. Menjelang Muktamar NU atau muktamar PKB Gus Dur yang digagasnya, ia mengaku bertemu Gus Dur.

“Gus Dur rawuh (datang) di teman-teman beliau, bahkan ketika mau muktamar (PKB Gus Dur.red), itu beliau rawuh di beberapa orang, sangat jelas. Ada kiai yang diminta untuk membantu,” katanya.

Yenny merasa, meskipun sudah meninggal, sambung rasa masih terasa dan Gus Dur masih memperhatikan. “Beliau masih mempunyai kemampuan untuk membantu dan menolong yang masih hidup, saya merasa seperti itu,” ujarnya. 

Ia jua menceritakan, ketika makam Gus Dur mau ambles, ia bermimpi ketemu Gus Dur sedang di Makkah. 

Namun demikian, dalam mimpi-mimpinya tersebut, tak ada pesan yang secara langsung disampaikan, semuanya harus ditafsirkan sendiri. 

“Kita mengertikan sendiri, tetapi gambarannya seperti itu. Beliaurawuh, atau kadang cuma ketawa khasnya Gus Gur gitu saja,” terangnya. (mkf)

Gus Dur Wali (3)


Aisyah Wahid: Tidak Perlu Heboh Tentang Wali

Fenomena ambrolnya makam Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng yang kemudian dianggap sebagai pertanda kewalian karena diceritakan kelihatan kafannya yang masih putih bersih, tidaklah perlu disikapi berlebihan. Makam yang ambrol adalah hal biasa, terutama jika terguyur hujan dalam waktu yang lama.



Demikian adik kandung Gus Dur Aisyah Wahid dalam perbincangan dengan NU Online di kediamannya Bilangan Kemang, Kamis (24/2). Isteri KH Hamid Baidhowi ini berharap, masyarakat tidak perlu menghebohkan kewalian Gus Dur.

"Tidak perlu heboh tentang wali. Karena hanya Allah dan para wali yang tahu tentang wali," tutur Aisyah.

Lebih lanjut mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan, kejadian sebenarnya tidaklah seheboh yang diperbincangkan media dan masyarakat. Karenanya, Aisyah berharap masyarakat tidak perlu membahasnya berlarut-larut.

"Makam Gus Dur telah empat kali longsor. Makam itu longsor karena dahulu waktu dikebumikan tidak ada yang berani memadatkan urugannya. Ndak sopan katanya," tandas Aisyah. (min)

Gus Dur Wali (2)


Gus Sholah: Gus Dur Wali Sosial 



KH Salahuddin Wahid, biasa dipanggil Gus Sholah, yang merupakan adik kandung Gus Dur memiliki pendapat kewalian bisa dibagi pada aspek sosial dan aspek agama. Jika secara sosial, masyarakat sudah menganggap seseorang sebagai wali, ia jadi wali. 



“Bagi saya, Gus Dur itu wali sosial. Kalau dari sudut pandang agama, saya tidak tahu, ini rahasia Allah,” katanya, Rabu (23/2).

Namun ia mengakui, ada tanda-tanda kewalian dalam diri Gus Dur yang akhirnya membuat orang percaya bahwa mantan ketua umum PBNU ini adalah wali.

“Saya juga pernah mendengan banyak cerita, dari yang mengalami langsung, Gus Dur ngasih tahu begini-begini dan benar. Artinya bukan tanpa alasan, anda indikator yang dipercaya bahwa Gus Dur adalah wali,” ujarnya.

Namun secara pribadi, sebagai saudara kandung yang tumbuh dan besar bersama-sama ia malah tidak pernah melihat keanehan-keanehan yang dilakukan kakaknya itu. Gus Sholah juga mengaku bukan orang yang menggemari dan mendalami dunia spiritual.

Apresiasi atas kewalian Gus Dur yang ditunjukkan oleh masyarakat, yang merupakan cerminan perilaku sosial diantaranya dapat ditunjukkan banyaknya orang yang datang ke makam mantan presiden RI ke-4 ini, meskipun tak ada yang menyuruh.

“Orang timbul kesadaran sendiri, saya menafsirkan karena Gus Dur banyak berbuat hal yang baik bagi masyarakat. Ini diterima oeh masyarakat sebagai sesuatu jasa Gus Dur, dan itu ditafsirkan sebagai niat tulus. Gus Dur semasa hidupnya juga rajin berziarah ke makan wali, Allah membalas dalam bentuk yang sama,” terangnya. 

Mengenai kemampuan Gus Dur untuk tahu sebelum datangnya peristiwa, Pengasuh Pesantren Tebuireng ini menganggap ada pembicaraan Gus Dur yang harus dinilai sebagai analisis, bukan ramalan.

“Contoh saja, Gus Dur mengatakan DPR kayak TK, nyatanya memang seperti itu. Ini kan analisis, bukan ramalam, tapi oleh masyarakat dianggap doyo linuwih, kelebihan yang sifatnya ada mistisnya,” paparnya. (mkf)

Gus Dur Wali (1)


Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi 

(NU Online -situs resmi PBNU- merilis berita berseri tentang kewalian Gus Dur. Ancabkaliwungu merasa perlu untuk turut memostingnya di blog. alhamdulillah, Ancabkaliwungu ONLINE mendapat ijin untuk turut memberitakannya. tim admin AncabKaliwungu merilis secara acak)

Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut. 



Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq.

"Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan.

Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online,Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati. 

Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang. 

"Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaah terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min)