Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Menggugah Peran Perempuan dalam Pesantren





Judul Buku : Perempuan Berkalung Sorban


Penulis : Abidah El-Khalieqy

Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Tebal: viii+320 Halaman
Ukuran: 13x19 cm
ISBN : 978-979-15836-4-1





Resensi Oleh : Amalia Ulfah*

Membicarakan perempuan sebagai gerakan sosial feminisme, meski banyak dikatakan sebagai pembicaraan yang basi, sebenarnya akan terus berkembang dan tetap bergairah, mengingat di beberapa tempat tertentu, perempuan masih belum bisa merasakan angin segar feminisme yang gerakannya sudah muncul sejak tahun 1869 ini. Posisi perempuan yang dimarjinalkan sejatinya masih tumbuh di beberapa tempat yang memiliki sisi kultural yang begitu mengakar.

di Pesantren misalnya, dikotomi yang memosisikan perempuan hanya sebagai kanca wingking dan tidak memiliki kekuasaan lebih dari itu juga masih mengakar, terutama di pesantren salaf yang kental dengan akulturasi budaya Islam-Jawa. Keduanya memiliki corak khas masing-masing dalam memosisikan perempuan.

Islam, dengan sejarahnya yang keras dalam berhadapan dengan keterbelakangan budaya di Arab, memiliki sejarah buruk tentang perlakuan terhadap perempuan, hanya saja, zaman semakin berkembang, meskipun secara intelektual, dialektika mengenai islam melahirkan kelompok-kelompok moderat yang mengangkat derajat perempuan pada titik penghormatan yang lebih baik, namun tetap saja ada paham fundamentalisme dalam Islam yang masih demikian radikal dan ekstrem dalam mengungkung perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang layak.

Jawa, dengan sistem monarkinya, memosisikan perempuan sebagai "yang dinomorduakan", secara kultural, budaya Jawa cenderung paternalistik. Ada batasan-batasan tertentu dalam relasi gender di Jawa yang secara implisit menyatakan bahwa peran laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan. Perempuan sebagai "kanca wingking" adalah bukti dikotomi perempuan sebagai yang nomor dua.

Dua budaya patriarkis inilah yang mencoba diangkat oleh Abidah dalam novelnya berjudul Perempuan Berkalung Sorban. Melalui tokoh bernama Annisa, Abidah menggugat budaya diskriminatif terhadap perempuan dalam dua buah konstruksi sosial, yaitu  Jawa dan Islam. Konstruksi sosial dalam Jawa ia representasikan dalam bentuk pesantren, meskipun secara gamblang Abidah berkonsentrasi penuh terhadap sub-kultur pesantren sebagai target kritisnya.

Abidah, dengan cara yang sangat berani, membuka berbagai realitas sosial yang ada di masyarakat Pesantren-Islam dengan menuangkannya dalam serangkaian adegan dan konflik yang secara klimaks dibuat fluktuatif, naik-turun tidak stabil.

Melalui setting di pesantren dan seorang tokoh bernama Annisa ini, Abidah menghadirkan realitas feminis dalam tembok pesantren yang selama ini jarang disentuh. Annisa sebagai putri Kyai selalu tidak mendapatkan kesamaan hak dengan kedua kakaknya, Annisa tidak boleh mengenyam pendidikan yang tinggi seperti kakak-kakaknya misalnya. Bahkan ketika Annisa sudah cukup mapan untuk berdiskusi secara ilmiah, suara Annisa sebagai perempuan tetap saja tidak mendapatkan porsi dalam pengambilan kebijakan birokrasi di Pesantren.

Namun, kegigihan Annisa untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang sama seperti juga laki-laki tak pernah surut. Annisa gigih menyuarakan keinginan dan cita-citanya yang tinggi. Ia tak pernah takut kepada Ayahnya meskipun ayahnya selalu menyatakan pendapat yang cenderung diskriminatif.

Novel ini merupakan novel yang cukup pedas bagi kalangan kaum sarungan dan juga fundamentalis Islam, Abidah tidak hanya menjawil pesantren dari segi diskriminasi terhadap perempuan, ia juga mengkritisi sistem peraturan di pesantren yang kurang bisa beraktualisasi dengan zaman, misal mengharamkan para santri membaca buku-buku sastra dan non sastra baik yang muatannya sosial, politik, dan sebagainya. tentu tidak semua pesantren demikian, Abidah hanya mengkritisi beberapa yang masih memberlakukan peraturan semacam itu.

Selain mengkritisi pesantren, ia juga menyenggol konstruksi ideologi kaum fundamentalis yang gencar memaksa muslim di Indonesia untuk berkiblat pada islam di Arab, yang biasa disebut gerakan Arabisasi. 

"Dalam suratnya itu, ia bilang, belum tentu lagu yang menggunakan bahasa Arab itu islami. Kita jangan mudah terjebak dalam simbol. Bahasa Arab itu simbolnya orang Islam, tapi kalau di negara Arab, orang jahat, para penari perempuan juga menggunakan bahasa Arab".
Karya Abidah ini begitu kompleks, membicarakan bermacam hal yang ternyata begitu absurd. Benar apa yang dikatakan Wellek dan Warren (1976) bahwa Sastra adalah cermin masyarakat. Sastra bukanlah imaji yang mutlak, ia merupakan karya tulis yang menceritakan keadaan yang benar adanya di masyarakat. Abidah telah mengungkapkan realitas sosial dalam pesantren melalui novel yang gigih ini. Abidah bukan menjelek-jelekkan sistem dalam pesantren, ia telah melakukan upaya otokritik, sebab ia  sendiri juga besar di lingkungan pesantren, sehingga otokritik merupakan jalan yang baik sebagai cara mengembangkan pesantren pada posisi yang lebih baik.

* Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang

Kalang Kabut: Dari Kiai Kampung ke NU Miring



*Oleh: Abi S. Nugroho


Judul Buku: Dari Kiai Kampung ke NU Miring
Penulis: Acep Zamzam Noer et.al
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: 248 hlm


Apa boleh buat, buku sudah dicetak. Pikiran sudah tertuang jadi catatan. Perasaan yang mengisi dada, tumpah-ruah. Semua itu digarap dengan baik menjadi buku berjudul "Dari Kiai Kampung ke NU Miring: Aneka Suara Nahdliyyin dari Beragam Penjuru".
Bersampul hijau tua muda, tertampak bayang manusia dalam ruang geraknya yang konstan. Berkostum sorban dan kopiah. Sigaret di sela jari. Itulah sampul ­bayangan, bergambar Nahdlatul Ulama tercetak miring. Pembaca akan mengerti maksud sampul dan judul, tentu ­dengan membaca secara cermat dan kritis kandungan isinya. Sosok bayangan itu. Entah siapa mereka. Maka, baca dan ketahuilah.
Buku ini menjadi bermutu karena ­mengandung energi kritik luarbiasa. Bukan sembarang kritik, melainkan mengupas seluk-lilu kehidupan kaum Nahdliyyin--kiai, santri, warga NU yang dianggap dan warga NU biasa tidak dianggap. Warga NU terbagi-bagi begitu rupa. Untuk, oleh dan kepada siapa. Egalite dan elite, struktural dan kultural, kota dan desa, tua muda, serius nggak serius, dan sebagainya. Sehingga menjadi amat manusiawi, buku semacam ini ditulis. Tentu jika kita membacanya, para penulis seolah "kalang kabut" menghadapi kenyataan yang terjadi di tubuh NU akhir-akhir ini, khususnya pasca-Muktamar NU ke 32 di Makassar.
Terdiri dari 248 halaman dalam tiga bagian. Didahului asbab an-nuzul NU miring oleh Binhad Nurrohmat selaku editor. Bagian pertama, menonton NU. Kedua, mengulas NU. Ketiga, mencanda NU. Seakan tidak mencita-citakan sesuatu yang muluk-muluk.  Judul dan bagian isi memenuhi rasa bahasa kaum yang merasa memiliki masa depan. Mereka, kaum muda Nahdliyyin.
Ditulis sederhana dengan pilihan bahasa yang ringan tapi tajam. Mengalir mengisi ruang imaji pembaca, hingga selalu ada jeda menuai pertanyaan. Fakta diolah sedemikian rupa, sehingga jadi gurih sekaligus pedih. Nyaris tanpa kesalahan ketik pada ejaan. 
Kalimat penutup di setiap tulisan, sangat berkesan. Seperti apa yang ditorehkan Acep Zamzam Noor berikut ini, "Kisah tentang NU mungkin tinggal episode-episode sinetron yang alur ceritanya klise, membosankan, dan mudah ditebak pemirsa." Mujtaba Hamdi, mengatakan "Usah berlebihan. Sebab di luar sana ada banyak mata menatap, dan tak semua mampu memahami gerak a la NU. Jangan sampai dikira sedang aksi goyang condong. Na'udzubillah..." dan Soffa Ihsan, menegaskan "Keteladanan itulah yang paling utama untuk diketahui. Sebab, ucapan tanpa ada bukti keteladanan takkan pernah bisa dipahami. "Wallahu a'lam bi al-sawab."


Semua komentar di atas terasa bernada kurang ajar, menggurui. Meski tidak tepat disebut demikian. Karena itulah cara mereka menyapa persoalan yang tengah dihadapi. Suatu kesantunan tersendiri melalui satu tulisan yang tertata. Sekadar harapan kecil yang pedas didengar oleh beberapa kelompok, lantaran itu keluar dari pendirian nurani.
Keberanian seorang penulis lain dalam melihat persoalan NU juga bisa kita amati pada buku ini pada bagian "Menonton". Sudah sepantasnya penilaian dihargai. Kritik dipelihara dan dijaga demi perbaikan ke depan. Eyik Musta'in Romly menyuguhkan kesegaran yang menjadi kunci tulisannya. Dia melihat bahwa, "Hal yang harus dilawan adalah para penunggang NU yang memanfaatkan kebesaran NU demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, bukan demi kemakmuran warga NU. Hal yang mesti dikritisi adalah ulama dan pemimpin NU yang mendoktrin dan membodohi warganya demi keuntungan pribadi dengan memanfaatkan kekayaan untuk merebut NU struktural/kultural serta merebut kursi kekuasaan NU tanpa akhlaqul karimah. Juga mereka yang memutar uang dengan mengeruk kekayaan dengan menjual nama NU." Kekhawatiran yang mengandung harapan. Perasaan dan penilaian itu tidak bisa dianggap remeh. Perlu dipikir ulang dan dicari bagaimana cara penyelesaiannya, kalau memang itu dianggap masalah. Hanya tulisan, tapi jika mengandung kebenaran, tetap perlu diperhitungkan. Akhirnya mau jadi NU yang bagaimana? Mana saja boleh! Sebegitu seriusnyakah menjadi NU?
Kok ada, NU Miring? Macam mana...!!! Adakah NU tidak miring, NU lurus, berkelak-kelok bahkan bergelombang? Tawaran berbagai istilah, boleh saja. Tapi kebiasaan semacam ini terkesan hiperjargon. Persoalan yang menentukan masa depan, merah dan hitamnya kebenaran, tidak diselesaikan dengan cara demikian. Sekadar jeda kelakar, boleh saja. Tapi itu pun lebih baik, selama masih bisa menjiwai kegembiraan dengan NU gembira bersama saudara Binhad, Monggo mawon...
* Penulis adalah peserta kelas Tadarus Kolom-Kolom Gus Dur

Membumikan Islam Sunni: Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Lingkup Keindonesiaan




Judul Buku : Islam NU
Penulis: Drs. KH. A. Busyairi Harits, M. Ag. 

Tebal: xi + 223 hlm
Ukuran: 12 x 18 cm
ISBN: 978-979-1353-22-9
Terbit: Cetakan I, 2010
Penerbit: Khalista Surabaya








Resensi Oleh :Anis Nurohmah *



Dalam kajian historis, Greetz membagi masyarakat Indonesia menjadi tiga golongan, diantaranya santri, priyayi, dan abangan. Dalam perkembangan selanjutnya atau kekinian, kategori yang telah ada semakin banyak pula macamnya. Pengotak – kotakan terhadap Islam ini antara lain kategorisasi Islam tradisionalis, Islam modernis, Islam Jawa, Islam lokal, Islam jenggot, Islam NU, dan sebagainya. 

Kategori ini menjadi penting manakala melihat keragaman realitas yang kompleks. Tetapi yang mesti dipahami bahwa kategorisasi dan tipologi tersebut merupakan suatu analisis intelektual yang tidak akan mampu menjelaskan secara tuntas kompleksitas dan realita yang ada. 



Di Indonesia, tradisi Islam sering dikaitkan dengan budaya lokal yang bernuansa Hindu – Budha dan agama adat. Padahal secara makna harfiah, antara tradisi dan budaya sudah berbeda pemaknaannya. Karenanya tidak mengherankan bila Islam tidak pernah sepi dijadikan obyek kajian, dan setiap pengategorian Islam pasti memiliki kebenaran sekaligus kelemahan. 

Di lingkungan masyarakat Jawa misalnya, secara kasar dapat dibagi menjadi empat kategori. Pertama, Islam yang tercampur dengan tradisi lokal. Kedua, muslim yang terbaratkan (westernized) atau setidaknya memperoleh pengaruh Barat secara kental, sementara tradisi dan wawasan Islamnya sangat minim. Ketiga, mereka yang memahami dan menghayati Islam dalam kadar pas–pasan, serta memiliki pemahaman dan apresiasi peradaban Barat serta modernisasi yang juga pas–pasan. Keempat, mereka memiliki kedalaman tentang Islam dan mampu memelihara etos dan disiplin ilmu keislaman.  Inilah yang kemudian lazim disebut kaum santri yang memang benar–benar santri. 



Dalam buku yang diedit oleh Muhammad Iqbal atau kerap disapa Gus Iq ini berusaha mengungkapkan sisi lain NU yang telah menisbatkan diri sebagai organisasi yang berpedoman pada Ahlussunnah wal Jama’ah sejak dari awal terbentuk. 

Bahasan yang terbagi dalam enam bab terdiri atas pendahuluan yang berisi tentang latar belakang penulisan buku sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada para pembaca mengenai Nahdlatul Ulama sebagai pengantar dalam kajian pada bab–bab berikutnya. 

Bab dua tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, penulis berusaha mengungkapkan sejarah lahirnya komunitas Sunni dan perkembangan Ahlussunnah wal Jama’ah beserta penjelasan siapakah yang dimaksud dengan golongan Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Bab ketiga, NU dan perspektif fiqh berusaha diungkapkan dengan penjelasan tentang sumber ajaran Islam yang dipakai NU dalam setiap pengambilan keputusan dan menghadapi berbagai permasalahan, baik yang bersifat ubudiyah maupun muamalah. Pengambilan keputusan selalu berpedoman pada dasar sumber Islam yaitu Al Qur’an dan As Sunnah serta Al ijma’ dan Al Qiyas, penjelasan tentang sistem bermadzab menjadi bahasan yang menarik karena penulis menjabarkan tentang beberapa madzab yang berkembang di kawasan Islam. 



Masalah taqlid yang seringkali menjadi polemik di kalangan luar Nahdliyyin dijadikan sub bahasan yang mampu memberikan penjelasan bahwa taqlid yang dilakukan warga Nahdliyyin bukan tanpa alasan karena dalam beberapa aspek dijelaskan bahwasanya orang yang kurang pemahamannya dalam hal ilmu agama wajib bertaqlid pada orang yang lebih paham dalam hal ini, adalah para mujtahidin. 



Talfiq atau pencampuran ajaran berbagai madzab dalam masalah ubudiyah tak lepas dari tema dengan melihat kondisi masyarakat saat ini yang seringkali tidak paham mengenai fiqh dan seringkali malah mencampuradukkan antara madzab satu dengan madzab yang lain. 

Lanjut pada sub bab berikutnya mengenai bid’ah yang acapkali warga Nahdliyyin dituding sebagai penyebar macam tradisi yang berbau bid’ah.  Penulis menjabarkan tentang definisi bid’ah disertai pembagian bid'ah menurut ulama salafus shalih. Bab ketiga ditutup dengan sub bahasan mengenai bathsul masa’il ala NU. 

Dalam bab keempat, teks pidato Mukaddimah al Qanunil Asasy dipaparkan setelah diterjemahkan oleh Dr. (HC) KHA. Musthofa Bisri Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang. Bahasan dilanjutkan mengenai sejarah berdirinya NU dengan cerita yang belum pernah dipaparkan sebelumnya, terutama mengenai peristiwa tongkat dan tasbih yang dipaparkan oleh Kiai Asad. Dalam perjalanannya pun beberapa ulama pendiri NU tidak lepas dari Komite Hijaz yang merupakan awal dari bibit berdirinya Nahdlatul Ulama, disambung dengan tujuh kepribadian dan karakter NU sebagai gerakan keagamaan (harakah diniyah) yang dilandasi oleh dasar dan paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah dan sistem bermadzab. 



Klimaks dari buku ini terdapat pada bab kelima, tantangan Islam NU dan tradisi Sunni Indonesia dalam menghadapi gencarnya ajaran Wahabi mulai menyebar ke berbagai belahan dunia dengan berbagai model gerakan dan organisasi. Dalam bab ini pula, penulis berusaha mengungkapkan akar ajaran berbagai macam gerakan Islam yang cenderung ke arah puritanisme, fundamentalisme, bahkan gerakan Islam yang mengarah kepada ekstremisme. 



Penulis juga seorang dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Semarang (UNNES) berusaha pula menyempurnakan tulisannya dengan bahasan mengenai pilar–pilar pengawal Sunni dalam berbagai bidang, baik pendidikan, budaya, sosial kemasyarakatan, perekonomian, penerangan dan dakwah serta adanya gerakan kiai kampung yang menjadi agenda dalam menjaga ajaran Sunni di wilayah Nusantara. 

Bab terakhir atau bab keenam merupakan bab penutup dengan untaian kalimat dari penulis: “Meskipun saya bukanlah yang pertama memulainya, tapi saya yakin dapat mendatangkan sesuatu yang tidak pernah dihadirkan oleh mereka para pendahulu.”



Melalui buku ini, penulis berusaha untuk mengomunikasikan beberapa hal kepada masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai Islam yang diusung NU adalah Islam yang santun, cantik, dan menarik. 

Santun berarti ajarannya bermuara pada teologi filosofis yang sarat dengan etika dan estetika ketuhanan atau sering kita sebut dalam ilmu tassawuf dengan akhlak Rabbany. 

Cantik, artinya pengembangan ajaran Islam mengikuti ritme ‘adalah, keadilan, kesimbangan (tawazun), kedamaian (al-shaluh) dan selalu percaya terhadap visi dan misi Rahmatan lil’alamin. 

Islam NU ini ngin menyatakan bahwa ajaran yang selalu mengusung mahzab bukan berarti mengekor, tidak memiliki inisiatif atau mengekor pendapat orang. Akan tetapi ingin menggambarkan bahwa elastisitas hukum sangat penting untuk diselaraskan dengan obyek hukum itu sendiri, atau dengan kata lain menyelaraskan antara bahasa langit (wahyu) dan bahasa bumi (manusia).



Buku yang menjadi salah satu referensi untuk masyarakat Indonesia pada umumnya untuk lebih mengenal NU, arti penting Ahlussunnah wal Jama’ah, Komunitas Sunni dan untuk lebih mengetahui tentang paham Wahabi yang telah menjadi paham resmi di wilayah Saudi Arabia, mengingat sejarah dari Muhammad Ibn Saud dan kerjasamanya dengan Muhammad bin Abdul Wahab hingga akhirnya mampu menguasai wilayah Haramayn (Makkah dan Madinah). 

Terlebih khusus buku ini ditujukan untuk kaum muda NU dan warga Nahdliyyin untuk tetap berada dalam koridor pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah, mengingat sekarang semakin maraknya muncul aliran–aliran agama yang seringkali memojokkan para warga NU yang dicap sebagai “ahli bid’ah”. 



* Pegiat Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta

Hati-hati Pembajakan Demokrasi !







Judul : Khofifah Indar Parawansa Melawan Pembajakan Demokrasi; Pelajaran dari Tragedi Pilkada Jawa Timur
Penulis : Ahmad Millah Hasan.
Penyunting: M. Arief Hidayat & Moh. Nur. Huda
Penerbit :Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (Pesat)Tangerang, Banten. Cetakan Pertama




Pada akhir Maret 2008, nama Khofifah Indar Parawansa bergema di media massa, waktu itu, bukan pemberitaan tentang prestasi Khofifah yang selalu bersemangat membicarakan segala hal tentang isu perempuan seperti yang sudah-sudah, bukan juga tentang prestasinya sebagai Pemimpin muda paling berpengaruh tahun 2008 yang dinobatkan oleh majalah Biografi Politik tahun 2008 lalu.


Tetapi, media massa gencar memberitakan isu Khofifah yang maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur pada pilkada 2008. Meski awalnya Khofifah selalu menutup-nutupi toh akhirnya mengaku juga tentang pilihannya dalam keikutsertaan pada pilkada Jatim.
Dalam perjalanan serta perjuangannya memenangkan pilkada, Khofifah selalu terlihat optimistis, mengingat ia banyak didukung kaum perempuan juga Nahdliyin yang memang memiliki massa yang sangat besar di Jawa Timur.


Meski sebenarnya di tengah perjalanan, tak sedikit batu terjal dan tajam selalu menghadang Khofifah beserta tim nya, seperti yang ditulis Ahmad Millah Hasan bahwa rintangan selama masa kampanye selalu mengiringi, seperti adanya black campaign (kampanye hitam) yang sengaja dilakukan untuk menjatuhkan popularitas Khofifah di mata rakyat Jatim. Diantaranya tersebarnya poster bergambar Salib yang bertuliskan “semoga Tuhan Yesus memberkati” beserta gambar Khofifah, yang jelas-jelas tidak dibuat oleh Tim Sukses Khofifah, tersebar hampir di semua daerah secara merata.


Ada juga isu gender yang sengaja dihembuskan untuk menumbangkan popularitas Khofifah, isu fatwa haram Perempuan jadi pemimpin dan masih banyak lagi ombak rintangan yang menerpa Khofifah dalam perjalanannya menggapai impian untuk mengubah Jawa Timur menjadi lebih baik.


Tak sampai di situ saja, selama masa pesta demokrasi dilaksanakan (masa pemungutan suara) pun, kejanggalan dan rintangan masih menerpa sedemikian gencarnya.


Meskipun Lima lembaga survey menyatakan Khofifah menang dalam pesta demokrasi rakyat Jawa Timur, namun KPUD menetapkan Khofifah kalah dalam pemungutan suara. Padahal, rangkaian bunga dan sms selamat sudah terkirim di hadapan Khofifah, Keganjilan dan kecurangan pun ditemukan Khofifah beserta timnya. Atas nama demokrasi, Khofifah mengajukan gugatan ke MK.


Banyak orang menuduh Khofifah gila jabatan, tak siap menang, atau apalah namanya yang sejenis maknanya. Persepsi masyarakat yang demikian tentu karena tidak tahu menahu duduk perkaranya secara rinci dan gamblang.


Di tengah persepsi sempit masyarakat tentang Perempuan Pemberani dan cerdas ini, buku tulisan Ahmad Millah Hasan menjadi muara yang menyegarkan. Buku berjudul Khofifah Indar Parawansa Melawan Pembajakan Demokrasi; Pelajaran dari Tragedi Pilkada Jawa Timur ini merupakan buku yang menyajikan realitas yang ada secara kronologis dan glambang.


Disertai bukti-bukti yang sangat kuat, pembaca akan diajak menyelami semangat Khofifah dalam melawan pembajakan demokrasi yang terjadi, di mana Khofifah beserta masyarakat Jawa Timur menjadi korban atas pembajakan tersebut. Pembaca akan turut serta memahami apa sebenarnya yang terjadi, bahasa yang digunakan Penulis sangat sederhana dan komunikatif, sehingga pembaca akan benar-benar merasakan situasi, emosi, juga spirit demokrasi pada waktu itu. Sangat layak dibaca untuk seluruh lapisan masyarakat yang mengaku berkewarganegaraan Indonesia (negara yang katanya demokratis ini), dan tentunya, menjadi kritikan tersirat untuk masyarakat yang akhir-akhir ini menggadaikan rasa demokrasinya demi secuil materi, buku ini mengajarkan rasa demokrasi yang sesungguhnya melalui tragedi yang digambarkan secara sangat menyentuh, sekaligus menyadarkan kita tentang nalar kebangsaan dan nasionalisme, sudahkah kita memahami arti kebangsaan, nasionalisme juga demokrasi yang sebenarnya. Selamat membaca. (Amalia Ulfah)