Tampilkan postingan dengan label GAIRAH SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAIRAH SASTRA. Tampilkan semua postingan

Harapan Sebuah Doa



by: PR.IPNU-IPPNU Krajan Kulon Kaliwungu

Mahasempurna Engkau ya Rabbi, telah menjadikan dunia itu indah...
Mahaagung Engkau Illahi, yang menjadikan bidadari-bidadari cantik di muka bumi ini...
Mahasuci Engkau ya Rabbani, mampu merubah yang haram menjadi halal....

Sungguh, tak ada yang lebih Agung selainMu,
Tak ada yang lebih nikmat dibanding anugrahMu,
Tak ada yang lebih sempurna melainkan DzatMu,
Tak ada yang lebih nyata selain alam semestaMu,
Dan tak ada bidadari yang lebih cantik di dunia ini,
Melainkan bidadari-bidadari pilihanMu yang Kau persiapkan untuk hamba-hamba suci penghuni SurgaMu...

Aku Masih Sendiri


by: Bahrul Ulum A. Malik

AKU MASIH SENDIRI 
menanti dan menanti sesuatu yang tak pasti, FATAMORGANA 
hilang semua hilang, sebelum kumenemukan yang kucari 

AKU MASIH SENDIRI 
terpuruk dalam penantian langit yang bergemuruh 
laut yang membadai dan angin yang MENGHALILINTAR!!

ada yang berbisik curiga mematamatai mata HILANG JIWA
dan AKU TETAP MASIH SENDIRI
MENUNGGUMU ITU!!

11 Ramadhan 1432 H/ 11 Agustus 2011

Rinduku Kuselipkan pada


rinduku
kuselipkan pada
kelopak mawar merah
yang tertata rapi
di setiap sudut keindahan

rinduku adalah
sekuntum mawar
menghias kamar mimpiku
bersama pot-pot doa

rinduku bersemayam tinggi
bertempat pada senyuman

rinduku
rindu atas kelopak mawar
harumi sela-sela renungku
pada sisi cintaMu


Kendal, 10 Syawal 1425 H

by : bahrul ulum a. malik
facebook.com/ulum.langitkendal

LANGKAH


         
: untuk putriku

bismillah
langkahkan kakimu nak
ke cahaya itu
cahaya yang benderang
yang tak menyilaukan itu

langkahkan nak
setapak demi setapak
menapaki tangga-tangga suci
pegang erat
jangan sekali-kali kau lena

anakku
ambil impian indahmu

anakku
engkaulah
mutiara ...
biola ...
dan puisiku ...


kaliwungu, 20 juni 2010


by : bahrul ulum a. malik
email : langitkendal@gmail.com

Kami Duduk Bersama


by: Irfan Ghandi
design worker , photography hobbyist, painter, mac user and god worshiper
Cair, suasananya begitu cair, di hadapan meja dan hidangan jamuan kami larut dalam tawa. Kami yang memilih untuk menepi dari silaunya dunia, dari sesaknya sekat-sekat yang tercipta atas nama kebencian, Kami yang terlahir berbeda namun tunduk pada kasih, kasih yang mengajarkan kami untuk mencintai warna, dan tak memperdulikan nama. Kasih yang menuntun kami untuk berjabatan tangan dan saling berbicara, duduk bersama dan tak menghiraukan tatapan dan cibiran.
Janggut kami sama panjang dan lebatnya,pakaian kami sama sama hitam tapi apa yang kami kenakan di kepala kami adalah berbeda, Matis mengenakan kipah, Jonah mengenakan jubah yang membalut badan hingga kepalanya, serta kalung salib yang melingkari lehernya, sementara aku mengenakan turban dan peci yang melengkung dan mengerucut. Kami bukanlah sejawat sedari kecil,  kami dipertemukan oleh kasih dan mengasingkan diri dari stigma.
Matis adalah Yahudi kelahiran Jerusalem yang terusir dari negrinya, karena ia menentang zionisme dan membela warga arab, begitupun Jonas, ia adalah seorang Kristen Ortodox yang juga terusir dari Jerusalem karena hal yang sama, kami tak pernah canggung untuk menceritakan masa lalu kami, Matis dan Jonas selalu terpukau setiap aku memainkan Ney(seruling),  bagi mereka nada yang ku mainkan seperti sihir, dan aku selalu terpingkal saat menyaksikan mimik wajah mereka saat ku meniupkan ney, Aku tak pernah segan mengucapkan selamat natal kepada jonas, dan Matis tak pernah canggung mnegucap salam kepada ku. Shalom, Salam, Eloi, Elohim, Allah, itu cuma soal bahasa bagi kami, tapi bukan berarti kami mencampur adukan.
Bagi kami semua tanah adalah sama, dari Jerusalem ke makkah, dari Sungai Nil dan sungai missisipi, tak ada perbedaan bagi kami, semua adalah pemberian. Begitulah kami, yang dipersatukan di meja ini, yang tak menghiraukan nama , dan kami hanya berharap pada suatu hari, tak adalagi kebencian atas perbedaan, tak adalagi stigma, meskipun kami sadar, pertumpahan darah bisa saja terjadi, namun kami berharap semoga itu tak memusnahkan harapan kami. Hingga akhirnya Adzan dan Lonceng bisa kembali berdampingan, dan tak ada lagi tangis di Gazza.
-cangkir kosong-

Siapakah Orang yang ?




Oleh : Sukasmo



Bissmillahirrohmanirrohim..
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya,
seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S.
Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah... dan bersegeralah! 

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang
ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap "Inna lillahi
wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabbi, Aku
ridho dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Maka berbaik hatilah dan bersabar...

Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang
ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara
ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan
berbagilah...

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang
ada, selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia
pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan
amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah...

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak
yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda...

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah
orang yang mati membawa amal-amal kebaikan,
dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang.
Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi
dihimpit ?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah
orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan, lalu
kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan
kehidupan setelah dunia...

Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni
surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia
untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal
sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap
ridho-Nya...

Menggugah Peran Perempuan dalam Pesantren





Judul Buku : Perempuan Berkalung Sorban


Penulis : Abidah El-Khalieqy

Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Tebal: viii+320 Halaman
Ukuran: 13x19 cm
ISBN : 978-979-15836-4-1





Resensi Oleh : Amalia Ulfah*

Membicarakan perempuan sebagai gerakan sosial feminisme, meski banyak dikatakan sebagai pembicaraan yang basi, sebenarnya akan terus berkembang dan tetap bergairah, mengingat di beberapa tempat tertentu, perempuan masih belum bisa merasakan angin segar feminisme yang gerakannya sudah muncul sejak tahun 1869 ini. Posisi perempuan yang dimarjinalkan sejatinya masih tumbuh di beberapa tempat yang memiliki sisi kultural yang begitu mengakar.

di Pesantren misalnya, dikotomi yang memosisikan perempuan hanya sebagai kanca wingking dan tidak memiliki kekuasaan lebih dari itu juga masih mengakar, terutama di pesantren salaf yang kental dengan akulturasi budaya Islam-Jawa. Keduanya memiliki corak khas masing-masing dalam memosisikan perempuan.

Islam, dengan sejarahnya yang keras dalam berhadapan dengan keterbelakangan budaya di Arab, memiliki sejarah buruk tentang perlakuan terhadap perempuan, hanya saja, zaman semakin berkembang, meskipun secara intelektual, dialektika mengenai islam melahirkan kelompok-kelompok moderat yang mengangkat derajat perempuan pada titik penghormatan yang lebih baik, namun tetap saja ada paham fundamentalisme dalam Islam yang masih demikian radikal dan ekstrem dalam mengungkung perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang layak.

Jawa, dengan sistem monarkinya, memosisikan perempuan sebagai "yang dinomorduakan", secara kultural, budaya Jawa cenderung paternalistik. Ada batasan-batasan tertentu dalam relasi gender di Jawa yang secara implisit menyatakan bahwa peran laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan. Perempuan sebagai "kanca wingking" adalah bukti dikotomi perempuan sebagai yang nomor dua.

Dua budaya patriarkis inilah yang mencoba diangkat oleh Abidah dalam novelnya berjudul Perempuan Berkalung Sorban. Melalui tokoh bernama Annisa, Abidah menggugat budaya diskriminatif terhadap perempuan dalam dua buah konstruksi sosial, yaitu  Jawa dan Islam. Konstruksi sosial dalam Jawa ia representasikan dalam bentuk pesantren, meskipun secara gamblang Abidah berkonsentrasi penuh terhadap sub-kultur pesantren sebagai target kritisnya.

Abidah, dengan cara yang sangat berani, membuka berbagai realitas sosial yang ada di masyarakat Pesantren-Islam dengan menuangkannya dalam serangkaian adegan dan konflik yang secara klimaks dibuat fluktuatif, naik-turun tidak stabil.

Melalui setting di pesantren dan seorang tokoh bernama Annisa ini, Abidah menghadirkan realitas feminis dalam tembok pesantren yang selama ini jarang disentuh. Annisa sebagai putri Kyai selalu tidak mendapatkan kesamaan hak dengan kedua kakaknya, Annisa tidak boleh mengenyam pendidikan yang tinggi seperti kakak-kakaknya misalnya. Bahkan ketika Annisa sudah cukup mapan untuk berdiskusi secara ilmiah, suara Annisa sebagai perempuan tetap saja tidak mendapatkan porsi dalam pengambilan kebijakan birokrasi di Pesantren.

Namun, kegigihan Annisa untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang sama seperti juga laki-laki tak pernah surut. Annisa gigih menyuarakan keinginan dan cita-citanya yang tinggi. Ia tak pernah takut kepada Ayahnya meskipun ayahnya selalu menyatakan pendapat yang cenderung diskriminatif.

Novel ini merupakan novel yang cukup pedas bagi kalangan kaum sarungan dan juga fundamentalis Islam, Abidah tidak hanya menjawil pesantren dari segi diskriminasi terhadap perempuan, ia juga mengkritisi sistem peraturan di pesantren yang kurang bisa beraktualisasi dengan zaman, misal mengharamkan para santri membaca buku-buku sastra dan non sastra baik yang muatannya sosial, politik, dan sebagainya. tentu tidak semua pesantren demikian, Abidah hanya mengkritisi beberapa yang masih memberlakukan peraturan semacam itu.

Selain mengkritisi pesantren, ia juga menyenggol konstruksi ideologi kaum fundamentalis yang gencar memaksa muslim di Indonesia untuk berkiblat pada islam di Arab, yang biasa disebut gerakan Arabisasi. 

"Dalam suratnya itu, ia bilang, belum tentu lagu yang menggunakan bahasa Arab itu islami. Kita jangan mudah terjebak dalam simbol. Bahasa Arab itu simbolnya orang Islam, tapi kalau di negara Arab, orang jahat, para penari perempuan juga menggunakan bahasa Arab".
Karya Abidah ini begitu kompleks, membicarakan bermacam hal yang ternyata begitu absurd. Benar apa yang dikatakan Wellek dan Warren (1976) bahwa Sastra adalah cermin masyarakat. Sastra bukanlah imaji yang mutlak, ia merupakan karya tulis yang menceritakan keadaan yang benar adanya di masyarakat. Abidah telah mengungkapkan realitas sosial dalam pesantren melalui novel yang gigih ini. Abidah bukan menjelek-jelekkan sistem dalam pesantren, ia telah melakukan upaya otokritik, sebab ia  sendiri juga besar di lingkungan pesantren, sehingga otokritik merupakan jalan yang baik sebagai cara mengembangkan pesantren pada posisi yang lebih baik.

* Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang

NU miring, Sastra Gonjang Ganjing


Sabrank Suparno
http://media-jawatimur.blogspot.com/
Menelusuri kiprah para muda NU sepeninggal tokoh muktabar Abdurrahman Wahid, diam-diam generasi penerusnya aktif melakukan upaya terobosan yang mengarah ke pembangkitan kesadaran kembali, terutama pada wilayah tradisi keNUan atau yang dikenal dengan ‘tradisi santri’. Geliat ini dapat kita amati dari berbagai acara yang berkenaan dengan keNUan dari berbagai sektor kehidupan sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan sastra, bahkan soal yang remeh sekali pun perihal ‘guyonan nyentrik ala NUis.
Menyimak beberapa catatan misalnya pertemuan dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya mendiang Gus Dur yang diadakan oleh Pengurus Ranting Cabang NU Diwek di masjid Ulul Albab Tebuireng, dengan menghadirkan Djohan Efendi dan budayawan Kacung Marijan. Atau gagasan acara Buka Puasa bersama di Gereja Diaspora Jombang yang dihadiri Alisa Wahid pada 26 Agustus 2010. Juga kunjungan PBNU KH. Agil Shiroj di Tambakberas tanggal 26 Juni 2010.
Menyambung penelusuran catatan serentetan acara di atas, yang paling hangat pada tanggal 12 Pebruari 2011 lalu, dimana universitas Undar Jombang mengadakan bedah buku: Dari Kiai Kampung ke NU Miring, Aneka Suara Nahdliyin dari Beragam Penjuru. Sengaja fihak rektorat Undar (dalam hal ini dr. Ma’murotus Sa’diyah M Kes: salah satu penulis buku tersebut) menghadirkan tiga sastrawan kondang D. Zawawi Imron, novelis Lan Fang, dan penyair Binhad Nurohmad.
Maksut NU Miring dalam buku setebal 284 halaman ini bukanlah suatu gambaran ketegangan pada titik nadzir kondisi kritis, melainkan ekspresi kepekaan para panulis muda NU dalam menyikapi kondisi mutakhir NU ketika dihadapkan pada realitas jaman. Maka ditemukan berbagai cara pandang dari beberapa penulisnya yang merujuk pada tiga kategori menonjol, yakni Mengulas NU, Mencandai NU, serta Menonton NU. Namun secara global wacana ‘NU Miring’ dalam buku ini sebagai adagium atas beberapa ‘tradisi NU yang sering ‘nyleneh’.

Tentu ada alasan mendasar kenapa Binhad Nurohmad selaku sastrawan muda Indonesia punya niatan menyunting buku tersebut. Menjawab pertanyaan perihal tema yang diangkat buku NU Miring, Binhad mengurai bahwa agar ditemukan teks pembacaan keNUan dari berbagai kalangan dan dari berbagai propinsi di Indonesia. Teks yang dimaksut adalah NU yang berani nyleneh, unik, termasuk sikap otokritik penulisnya terhadap kondisi kontemporer tubuh NU sendiri atau pun mengkritisi pemerintah.

Senada dengan Binhad, penyair sepuh asal ujung Madura yang berjuluk ‘si celurit emas’ D. Zawawi Imron menandaskan bahwa kehadiran buku ini merupakan potret semangat generasi muda NU yang ingin bangkit dengan mendengarkan suara hati rakyat secara realitas. Kebangkitan yang substansial. Sebab NU mulai kehilangan nilai tradisinya termasuk di bidang seni-sastra. Dalam pesan singkatnya D. Zawawi Imron menyarankan agar generasi NU mentradisikan filsafat Jawa, “iso o rumongso, ning ojo rumongso iso (pandailah berintrospeksi diri, namun jangan sok merasa pakar).”

Novelis Lan Fang lebih mengurik soal tradisi NU yang ia nilai unik, yakni tradisi tawadzuk, andap asor, bertatakrama terhadap yang lebih tua. Tatakrama dinilai penting dalam tradisi nahdliyin yang setara dengan tradisi masyarakat Cina, sebab dengan bertatakramalah menjadikan seseorang berwibawa: sesuatu makna pamor yang tidak dimiliki orang Barat meski pun berpredikat pakar besar. Selain membidik pandangannya mengenai tradisi NU yang nleneh, Lan Fang juga membaca penggalan novel terbarunya ‘Ciuman di Bawah Hujan’.

Kehadiran intelektual muda NU Yudi Latief dari Jakarta, kian mengesahkan perihal kemiringan tradisi NU yang bertumpu pada pengkajian kitab kuning sebagai jantung kekuatan NU, dengan cara menarik garis sumbu simetri keilmuan ke berbagai sektor kehidupan bermasyarakat.

NU, sebagaimana kita ketahui, adalah organisasi islam terbesar di tanah air yang dalam doktrinnya memadukan nilai-nilai keislaman dengan nilai tradisi di tanah air. Menyimak ulang apa yang dikatakan Sholahudin Wahid saat 40 harinya Gus Dur, bahwa selaku tokoh besar NU, sepulang dari Timur Tengah, paham yang dikembangkan Gus Dur ialah ‘meng-Islamkan Indonesia, dan bukan mengArabkan Indonesia’.

Pengacakan kepanjangan “Nahdlotul Ulama”, benar-benar dibongkar miring oleh penulis Ahmad S Alwy menjadi “Nahdlotul Umum”yang memungkinkan warganya datang sedari kalangan borjuis hingga proletarian. Sementara Riadi Ngasiran lebih santai menghadirkan NU dari sisi humor yang dipandang penting oleh para santri untuk melenturkan ketegangan atas ketimpangan hidup.

Kenylenehan NU dalam berbagai aspek kehidupan, kerap menumbuhkan guyonan nyentrik jika berhadapan dengan organisasi lain. Namun guyonan tersebut semata bertujuan sebagai sikap egalitarian berdampingan, bermesrahan dengan golongan lain. Ada banyak guyonan semisal: orang NU yang suka berwirid dengan suara keras, memperbanyak ibadah sunat, artinya orang NU menyukai bonus dalam beribadah, sementara orang Muhammadiyah menyukai diskon dengan bertarawih hanya 8 rekaat. NU sekarang bermadzhab Imam Syafi ie Maarif, sementara Muhammadiyah bermadzhab Imam Malik Fajar. Atau kelakar warga yang berbasis NU ketika menyarankan anaknya. ”Nak! Kalau kamu menikah harus mencari orang muslim, minimum Muhammadiyah.” Juga kekentalan tradisi membaca salam, assalamu’alaikum warohmatullhohi-ta’ala-wabarokatuh. Sedang warga selain NU, assalamu’alaikum warohmatullhohi-gak usah ta’ala ta’alaan-wabarokatuh.

Tradisi NU tak lepas dari tradisi santri, tradisi kitab kuning dan tradisi sastra. Awal mendalami bahasa dan sastra di podok pesantren, santri pasti dihadapkan pada rumus-rumus tatabahasa yang disuguhkan dalam bentuk bait pantun bersajak. Sejak kitab terkecil Nahwu, Shorof, Jurumiyah, Imriti, Alfiyah, bahkan Al Hikam kental dengan tuangan irama sajak. Hingga metode ini kerap digunakan santri sebagai ajang sindiran ketika mengutarakan simpatinya terhadap santriwati. Dengan alasan menghafal sebaris bait dari kitab Alfiya –wa yak tadzi, ridhon bi ghoiri sukhti-faiqot alfiyat abnu Mukti- yang dirubah isi bahasanya menjadi –pagi-pagi tak samperi diam saja-sore-sore tak sindiri, lirik mata-, yang sengaja diperdengarkan kepada santri putri yang ia taksir.

Tradisi membaca bait puisi sholawat (al Barzanji, Diba’iyah) bagi remaja NU juga memiliki keunikan tersendiri. Disamping mereka melampiaskan kerinduan atas ketakjubannya pada kekasih petunjuk jiwanya yakni Muhammad Rasululloh, pun kadang dinunuti niatan mengutarakan isi hati kepada kekasih (wanita) yang ditaksirnya. Lagu sholawat yang dilantunkan dengan lirik lagu pop, dangdut, qosidah, pelantun dapat menyampaikan keluhan, pujaan, kerinduan terhadap sang pacar yang mendengarkan. Semisal ketika berlangsung acara Diba’iyah putri, mereka melantunkan lagunya Imam S Arifin// jangan tinggalkan aku // kumohon kepadamu // tak sanggup diri ini // hidup tanpa dirimu //ditembangkan dengan bersholawat. Sehingga pada kesempatan lain, ketika hari Diba’iyah putra, mereka membalas dengan lagu sholawat yang ditembangkan / hani / hani / aku juga rindu / tetapi untuk sementara / biarlah terpisah / lagunya Roma Irama.

Menyibak fenomena tradisi NU di atas, betapa warga NU lekat dengan dunia sastra. Itulah mungkin yang bisa melebar dari kajian buku NU Miring ini, menyorot NU dari sudut pandang sastrawan, dengan harapan, para santri lebih gigih dalam menulis dan bersastra. Hampir tidak ditemukan genre ‘sastra santri’ pasca-lengserkeprabonnya barisan penulis santri: Taufik Ismail, Abdul Hadi WM, Ahmad Thohari, Emha Ainun Nadjib, Danarto, Al Adawiyah, al Bustami, al Hallaj, Rumi, dll yang tidak sekedar mengguratkan pena dalam berkarya, melainkan menyempurnakan karya sastranya dari sekedar ‘seni untuk seni’ atau seni untuk masyarakat tertentu, menjadi ‘seni untuk kehidupan manusia yang berbudaya tinggi.

Agaknya tidak lengkap jika kemiringan NU tidak disertai karya sastra santrinya yang menggelegak hingga menggonjang-ganjingkan kesusastraan Indonesia. Bagi santri, satu huruf saja yang mereka tulis tak lepas dari keterlibatan Tuhan (ibadah). Bisa saja tiba-tiba mengantuk atau hilang kesadaran ketika berkarya, maka tak akan jadi sebuah karya.

Karya santri ialah karya yang disandarkan pada fastabikul khoirot (berlomba memperbanyak kebaikan untuk umat manusia-rahmatan lil alamin). Ukurannya hanya sejauh mana Alloh turut campur dalam proses esoteris komitmen dimensi batin penulis yang mengintegral pada karyanya.

Tahajud Cintaku


Oleh: Emha Ainun Najib




Mahaanggun Tuhan  yang menciptakan hanya kebaikan 

 Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan



 Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya 

 Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima



 Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita

 Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya  tak dipelihara


 Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka

 Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya


 Ke  mana  pun memandang  yang tampak ialah kebenaran

 Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang
 

 Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

 Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan


 Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta

 Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya

         1988
 

Begitu Engkau Bersujud


Oleh: Emha Ainun Najib


Begitu engkau bersujud, terbangunlah ruang
  yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid

 Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
  pula telah engkau dirikan masjid

 Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
  telah kau bengun selama hidupmu?

 Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
  meninggi, menembus langit, memasuki
  alam makrifat



 Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
  bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud

 Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
  ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan

 Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
  ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang

 Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
  cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
  adzan



 Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid

 Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
  Allah, engkaulah kiblat

 Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
  didengar Allah, engkaulah tilawah suci

 Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
  Allah, engkaulah ayatullah



 Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
  karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
  dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
 

 menjadilah engkau masjid
 
 
  1987

Sajak Atas Nama


Oleh: Gus Mus


Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan

Ada yang atasnama negara merampok negara

Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat

Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia 



Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan 
Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan

Maka atasnama apa saja atau siapa saja 
Kirimlah laknat kalian
Atau atasnamaKu perangilah mereka! 
Dengan kasih sayang!

Rembang, Agustus 1997

Si Kafir dan Tuhannya


akulah si kafir, duduk termangu di bawah kaki Tuhan.


"bagaimana bisa manusia menculik hakMu mencabut nyawaku?" tanyaku.


akulah si kafir, dibalut kain kafan, di bawah kaki Tuhan.


"buatlah aku mati sekali lagi, mati dengan tanganMu"


akulah si kafir, menangis di
bawah kaki Tuhan


"siksalah aku jika aku kafir di hadapMu, aku sangsi disiksa makhlukMu"


Akulah si kafir, mengadu sendu di bawah kaki Tuhan,


“duhai Sang Maha Rahman, ku lihat malaikat pencabut nyawa telah mengubah diri menjadi manusia suci, di tangannya senjata siap perang, ia mendekatiku wujud manusia penuh nista, dan dengan menyeru namaMu, ia kirim aku ke alam tanpa nyawa”


Akulah si kafir, yang diseru sebagai penyesat yang halal darahnya,


“Tuhan, bagaimana bisa kuasa menghidupkan, mematikan, serta mengafirkan pindah tangan ke makhluk yang tengil bernama manusia?”



“Tuhan, bagaimana mungkin aku kafir sementara aku telah bersaksi tiada Tuhan selain Mu, Muhammad utusanMu”


“Tuhan, bagaimana bisa aku kafir, sementara ayat-ayatMu tak pernah lelah ku sentuh dengan bibirku?”


“Tuhan, bagaimana bisa aku mati di tangan makhluk tengilMu, sementara Engkau Maha Rahman atas segala sesuatu?”


“Tuhan, hidupkanlah aku, biar ku adu , Tuhan yang mereka “atasnamakan” adalah Tuhan yang tak mengenal kekerasan”


Amal
030311